Ketua HMI FK UB Muhammad Raynan Rizky Akbar Siapkan Revolusi Internal
Muhammad Raynan Rizky Akbar resmi dilantik sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (HMI FK UB).
Malang — Muhammad Raynan Rizky Akbar resmi dilantik sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (HMI FK UB) untuk periode 2026/2027. Dalam pidato perdananya, ia menegaskan komitmen untuk melakukan transformasi menyeluruh terhadap organisasi yang dipimpinnya.
Pelantikan yang berlangsung di lingkungan Universitas Brawijaya tersebut menandai dimulainya arah baru HMI FK UB sebagai organisasi kader yang tidak hanya fokus pada internal, tetapi juga berperan aktif dalam dinamika sosial dan kebijakan publik.
Visi Perubahan: dari Seremonial ke Substansial
Dalam pernyataannya, Raynan menyoroti bahwa organisasi mahasiswa, khususnya di lingkungan fakultas kedokteran, selama ini cenderung terjebak dalam kegiatan seremonial dan kurang berkontribusi terhadap isu-isu strategis.
“Sudah saatnya HMI FK UB keluar dari zona nyaman. Kita tidak bisa hanya menjadi organisasi administratif. Kita harus menjadi kekuatan intelektual dan moral,” ujar Raynan.
Ia menyebut agenda besar yang diusungnya sebagai revolusi internal organisasi, yang berfokus pada tiga pilar utama:
-
Rekonstruksi kaderisasi
-
Penguatan budaya intelektual
-
Radikalisasi peran sosial organisasi
Reformasi Kaderisasi dan Ideologi
Salah satu program utama adalah pembenahan sistem kaderisasi yang dinilai belum optimal dalam membentuk kader yang kritis dan progresif. Raynan berencana memperkuat kurikulum kaderisasi dengan pendekatan yang lebih kontekstual, termasuk integrasi isu kesehatan publik, politik, dan keislaman.
Ia juga menekankan pentingnya mengembalikan ruh ideologis Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi kader yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Membangun Tradisi Intelektual di Lingkungan Kedokteran
Raynan menilai bahwa mahasiswa kedokteran seringkali terfokus pada akademik semata dan minim ruang diskusi kritis. Oleh karena itu, ia akan mendorong:
-
Forum kajian rutin lintas disiplin
-
Produksi tulisan ilmiah dan opini publik
-
Keterlibatan aktif dalam wacana kebijakan kesehatan
Langkah ini diharapkan dapat menjadikan HMI FK UB sebagai pusat diskursus intelektual di kalangan mahasiswa kesehatan.
Ekspansi Gerakan dan Peran Sosial
Selain pembenahan internal, Raynan juga menargetkan ekspansi peran organisasi ke ranah eksternal. Ia ingin HMI FK UB hadir dalam isu-isu strategis seperti:
-
Ketimpangan akses kesehatan
-
Kebijakan pendidikan kedokteran
-
Isu kesehatan masyarakat
“Mahasiswa kedokteran tidak boleh apolitis. Kita hidup di tengah masyarakat, dan kita punya tanggung jawab untuk terlibat,” kata dia menegaskan.
Tantangan dan Harapan
Meski membawa visi besar, Raynan dihadapkan pada tantangan klasik organisasi mahasiswa, seperti keterbatasan waktu kader, budaya apatis, serta resistensi terhadap perubahan.
Namun demikian, ia optimistis bahwa dengan konsolidasi internal yang kuat dan arah gerakan yang jelas, HMI FK UB dapat menjadi model organisasi mahasiswa kedokteran yang progresif dan berpengaruh.
“Perubahan tidak akan datang dari luar. Kita harus memulainya dari dalam,” tuturnya.
Sumber: https://www.indonesiana.id/
